MAKALAH GEOLOGI
PENGARUH ABRASI
PANTAI DI ULAKAN TAPAKIS KABUPATEN
PADANG PARIAMAN
Oleh Kelompok IV
1.
Abdul Wahid :
17.1000.5531.009
2.
Ririn Subara Putra :
17.1000.5531.012
3.
Lusi Gustia :
17.1000.5531.018
4.
Adven Eva Anani :
17.1000.5531.019
5.
Sipriana :
17.1000.5531.020
Dosen Pengampu : Heny Mariati, S.Pd, M.Si
PROGRAM STUDI
GEOGRAFI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS
TAMANSISWA PADANG
2017
Kata Pengantar
Puji Syukur Kami ucapkan kehadirat tuhan Yang Maha
Esa yang telah melimpahkan nikmat dan karunianya sehingga kami mampu
menyelesaikan makalah yang berjudul “Analisis
Abrasi Pantai di Ulakan, Tapakis Kabupaten Padang Pariaman” . Makalah ini
dibuat sebagai salah satu prasyarat dalam mata kuliah Geologi.
Penulisan makalah ini tidak terlepas dari bantuan
banyak pihak yang telah memberikan kritikan, saran serta doa sehingga makalah
ini dapat diselesaikan.
Kami menyadari penulisan makalah ini masih jauh dari
Sempurna karena keterbatasan pengalaman dan ilmu pengetahuan yang kami miliki.
Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca untuk
kesempurnaan makalah ini dimasa yang akan datang. Kami selaku penulis
mengharapkan semoga makalah ini bermanfaat bagi orang banyak terutama bagi
penulis sendiri.
Padang, Desember 2017
Penulis
Daftar Isi
Kata Pengantar……………...…………..…………………………………………i
Daftar Isi…………………………………….…………………………………….ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang……………………………….……………………………….1
1.2
Rumusan Masalah ……………………………….…………………………...1
1.3
Tujuan……………………………………………….………………………...2
BAB
II TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Pengertian Abrasi……………………………………………………………..3
2.2
Penyebab Abrasi……………………………………………………………...3
2.3
Dampak Abrasi……………………………………………………………….4
BAB
III ISI
3.1
Karakteristik Pantai Ulakan Tapakis ………………………………………...5
3.2
Proses Abrasi Pantai Ulakan Tapakis………………………………………...7
3.3
Upaya Penanggulangan Abrasi Pantai………………………………………..9
BAB
IV PENUTUP
4.1
Kesimpulan…………………………………………………………………..11
4.2
Saran…………………………………………………………………………11
Daftar
Pustaka…………………………………………………………………...12
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Pantai merupakan bagian wilayah pesisir
yang bersifat dinamis, artinya ruang pantai (bentuk dan lokasi) berubah dengan
cepat sebagai respon terhadap proses alam dan aktivitas manusia. Faktor-faktor
yang mempengaruhi dinamisnya lingkungan pantai diantaranya adalah iklim (temperatur,
hujan), hidro-oseanografi (gelombang, arus, pasang surut), pasokan sedimen
(sungai, erosi pantai), perubahan muka air laut (tektonik, pemanasan global)
dan aktivitas manusia seperti reklamasi pantai dan penambangan pasir
(Solihuddin, 2006).
Kecamatan Ulakan Tapakis merupakan satu
dari 17 kecamatan yang terdapat di Kabupaten Padang Pariaman dengan luas
wilayah 38,85 km2. Secara geografis kecamatan Ulakan Tapakis
terletak pada 100o16’00” BT dan 0o45’00” dengan
ketinggian ± 7-100 m dpl dengan panjang garis pantai 7,5 km (BPS Padang
Pariaman, 2017).
Proses abrasi (erosi pantai) yang
terjadi di pantai Ulakan Tapakis telah mengalami peningkatan dalam dua tahun
terakhir. Saat in abrasi pantai di pantai Ulakan Tapakis Padang Pariaman
mencapai 3km dan jarak antara rumah warga dengan pantai tinggal 10 m. pada
kasus terakhir 3 buah rumah roboh dan puluhan rumah lainnya terancam akibat
dari erosi pantai yang terjadi. apalagi dengan cuaca ekstrim yang melanda
daerah tersebut menyebabkan proses abrasi semakin menjadi.
1.2
Rumusan Penulisan
Berdasarkan
uraian latar belakang di atas, maka rumusan penulisan sebagai berikut;
1.
Bagaimana
terjadinya proses abrasi di pesisir pantai Ulakan Tapakis?
2.
Bagaimana
penyebab terjadinya proses abrasi di pantai Ulakan Tapakis ?
3.
Bagaimana cara
menanggulangi abrasi di pantai Ulakan Tapakis?
1.3
Tujuan Penulisan
Berdasarkan
rumusan penulisan di atas, maka tujuan penulisan sebagai berikut;
1.
Untuk mengetahui
bagaimana proses abrasi yang terjadi Ulakan Tapakis.
2.
Untuk mengetahui
penyebab Terjadinya abrasi pantai di Ulakan Tapakis.
3.
Untuk Mengetahui
cara penanggulangan abrasi pantai di Ulakan Tapakis.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Pengertian Abrasi
Abrasi adalah
proses pengikisan pantai oleh tenaga gelombang laut dan arus laut
yang bersifat merusak. Abrasi biasanya disebut juga erosi pantai.
Kerusakan garis pantai akibat abrasi ini dipacu oleh terganggunya keseimbangan
alam daerah pantai tersebut. Walaupun abrasi bisa disebabkan oleh gejala alami,
namun manusia sering
disebut sebagai penyebab utama abrasi. Salah satu cara untuk mencegah
terjadinya abrasi adalah dengan penanaman hutan
mangrove. Ada pula yang berpendapat bahwa, abrasi merupakan peristiwa
terkikisnya alur-alur pantai akibat gerusan air laut. Gerusan ini terjadi
karena permukaan air laut mengalami peningkatan. Naiknya permukaan air laut ini
disebabkan mencairnya es di daerah kutub akibat pemanasan global.
2.2
Penyebab Abrasi
Faktor yang menyebabkan terjadinya
abrasi terbagi dalam dua jenis faktor yaitu faktor alam dan faktor manusia.
Faktor alam yang menyebabkan abrasi
antara lain
1.
Naiknya
permukaan laut karena mencairnya es di kutub dikarenakan pemanasan global.
2.
Gelombang pasang
yang mempunyai kekuatan untuk mengikis daerah pantai.
Sedangkan, faktor manusia yang dapat menyebabkan
terjadinya abrasi antara lain
1.
Ketidakseimbangan
ekosistem laut dikarenakan manusia terlalu banyak dan semena-mena dalam memanfaatkan
kekayaan laut seperti memanfaatkan terumbu karang, ikan, dan juga menambang
pasir yang tidak memerhatikan keseimbangan ekosistem laut itu sendiri.
2.
Mencairnya es di
kutub karena pemanasan global sejatinya juga disebabkan oleh manusia karena
banyak manusia yang membangun rumah kaca.
2.3
Dampak Abrasi
Dampak yang ditimbulkan dari abrasi
yaitu megikisnya bibir pantai, sehingga semakin lama air naik ke permukaan,
bahkan dapat merusak daerah disekitar pantai.
1.
Penyusutan lebar
pantai sehingga menyempitnya lahan bagi penduduk yang tinggal di pinggir pantai
2.
Kerusakan hutan
bakau di sepanjang pantai, karena terpaan ombak yang didorong angin kencang
begitu besar.
3.
Kehilangan
tempat berkumpulnya ikan- ikan perairan pantai karena terkikisnya hutan bakau.
4.
Menghambat
pengembangan potensi kelautan di kabupaten Padang Pariaman secara keseluruhan,
baik pengembangan hasil produksi perikanan maupun pemanfaatan sumber daya
kelautan lainnya.
BAB III
ISI
3.1 Karakteristik pantai Ulakan Tapakis
1.
Formasi batuan
Menurut Kastowo, dkk (1996) dalam Peta
Geologi Lembar Padang, Sumatera. Formasi batuan yang menyusun daerah penelitian
dan sekitarnya didominasi oleh Endapan Aluvium yang terdiri dari lanau, pasir
dan kerikil. Informasi mengenai litologi atau jenis batuan penyusun berpengaruh
terhadap resistensi (daya tahan) garis pantai terhadap proses pengikisan oleh
gelombang, arus dan pasang surut. Dolan, et al (1975) membagi 5 (lima) variabel
klasifikasi pantai berdasarkan tipe batuan dan kekerasan mineral yang terkandung
dalam batuan. Faktor erodibilitas (nilai kepekaan suatu jenis batuan terhadap
proses pelapukan) tergantung kepada kandungan mineral, sementasi (terutama pada
batuan sedimen), besar butir (untuk sedimen tak padu) dan kehadiran struktur
batuan seperti perlapisan (bedding), pecahan (cleavage), dan retakan
(fracture). Berdasarkan litologi penyusun yang didominasi oleh Endapan Aluvium,
maka daerah pesisir Padang Pariaman memiliki resistensi rendah terhadap proses
pengikisan oleh gelombang, arus dan pasang surut berdasarkan klasifikasi Dolan,
et al (1975). Oleh karena itu, dalam pengelolaan dan perencanaan wilayah
pesisir harus sangat hati-hati dan dianjurkan memperhatikan AMDAL.
2. Karakteristik Pantai
Karakteristik pantai daerah penelitian
secara keseluruhan termasuk jenis pantai berpasir (sandy beaches). Litologi
penyusun pantainya adalah aluvium, relief rendah, faktor dominan yang
mempengaruhi konfigurasi garis pantai adalah proses laut (marine processes).
Pantai berpasir dengan ukuran butir di daerah paras pantai (beach faces)
umumnya sedang–kasar, berwarna abu kecoklatan, mengandung mineral kuarsa,
fragmen batuan (lithic fragments), dan mineral mafik. Di daerah pematang pantai
(beach ridges) ukuran butir dominan kasar, hal tersebut dikarenakan daerah ini
merupakan daerah limpasan gelombang (overwash) yang memiliki energi lebih
tinggi. Kemiringan lereng pantai (beach slope) berkisar 4–15°, hal tersebut
menunjukkan energi gelombang di daerah ini cukup tinggi, karena kemiringan
lereng pantai berbanding lurus dengan energi gelombang (Darlan, 1996).
Pemanfaatan dataran pantai (coastal plain) diantaranya untuk pantai wisata,
permukiman, perkebunan buah naga, kelapa dan sebagainya
3.2 Proses Abrasi Pantai di Ulakan Tapakis
Berdasarkan formasi batuan dan
karakteristik pantai mengakibatkan abrasi pantai yang cukup tinggi pada pantai
Ulakan Tapakis Kabuptaten Padang Pariaman. Hal ini dapat dilihat dengan semakin
mengikisnya daratan di sepanjang pesisir pantai sehingga daerah pantai semakin
dekat dengan pemukiman penduduk.
Hal ini dikarenakan:
1) Rendahnya kesadaran masyarakat
khususnya yang tinggal didaerah pesisir dan juga disebabkan tingginya
eksploitasi hutan mangrove secara berlebihan yang tidak memperhatikan dampak
keadaan lingkungan.
2) Keadaan sosial ekonomi masyarakat
Ulakan Tapakis yang tersebar dipesisir pantai mengandalkan sumber daya alam
kelautan dan pesisir sebagai mata pencaharian kehidupan masyarakat. Dalam
memenuhi keperluan hidupnya, sebagian masyarakat pesisir melakukan intervensi
terhadap ekosistem hutan mangrove. Hal ini dapat dilihat dari adanya alih
fungsi lahan (mangrove) menjadi tambak, pemukiman nelayan, industri, dan
sebagainya maupun penebangan oleh masyarakat untuk berbagai keperluan terutama
bahan industri panglung kayu arang, serta penggunaannya sebagai kayu cerocok
bangunan.
Walapun proses abrasi pantai tidak
berlansung dalam waktu singkat, namun karena kurang perhatian pemerintah dan
kesadaran masyarakat sekitar menyebabkan abrasi pantai di daerah tersebut
semakin parah, hal ini dapat dilihat akibat dari abrasi pada awal Desember 2017
lalu
3.3
Upaya Penanggulangan Abrasi
1.
Melakukan Upaya
Rehabilitasi Mangrove dan Peningkatan Infastruktur Penahan Gelombang.
a.
Secara alami
Upaya
yang dilakukan secara alami yaitu dengan melakukan penanaman ekosistem mangrove
dikawasan yang terkena abrasi. Hal ini bertujuan untuk menjaga kelestarian
tanaman mangrove sebagai salah satu tanaman penaham gelombang yang alami.
b.
Secara buatan
Upaya yang
dilakukan secara buatan yaitu dengan melakukan pembangunan penahan gelombang
atau turap dan pemecah gelombang.
Cara penanggulangan secara buatan merupakan cara
yang efektif dalam melakukan penanggulangan abrasi dikawasan pesisir yang cukup
parah atau tingkat abrasi yang tinggi.
2.
Meningkatkan
Pemahaman dan Peran Serta Masyarakat
Tentu saja dalam menanggulangi masalah abrasi,
masyarakat ikut serta dan mengambil andil tersendiri dalam menanggulangi
abrasi. Pemerintah yang dalam hal ini merupakan fasilitator yang akan merangkul
dan memonitoring hasil kegiatan masyarakat. Menurut Merilee S.Grindle dalam
namawi (2009:141) menjelaskan bahwa dalam implementasi kebijakan harus didukung
sumber daya yang digunakan agar pelaksanaan program bisa berjalan lancar dan
baik
3.
Sosialisasi
Peningkatan Peran Serta Masyarakat
Tujuan sosialisasi ini adalah agar pelaksana program
dan masyarakat memahami betapa pentingnya dalam menanggulangi abrasi, sehingga
program penanggulangan abrasi melalui sosialisasi dan pembinaan masyarakat
dapat berjalan optimal. Dalam melakukan pembinaan dan sosialisasi kepada
masyarakat. Pemerintah terlebih dahulu melakukan pendataan terhadap kelompok
masyarakat yang peduli lingkungan pesisir.
4.
Menggali
Kearifan Lokal
Keikutsertaan masyarakat pesisir dalam mengelola dan
menjaga kawasan pesisir memang dikatakan perlu ditingkatkan. Sebagian besar
masyarakat pesisir yang berprofesi sebagai nelayan mengambil kekayaan hasil
laut seharusnya seimbang melakukan kegiatan perawatan dan pemeliharaan hutan
mangrove agar habitat yang hidup dipesisir hutan mangrove terjaga kelestarian.
BAB IV
PENUTUP
4.1
Kesimpulan
Abrasi adalah
proses pengikisan pantai oleh tenaga gelombang laut dan arus laut
yang bersifat merusak. Abrasi biasanya disebut juga erosi pantai.
Kerusakan garis pantai akibat abrasi ini dipacu oleh terganggunya keseimbangan
alam daerah pantai tersebut.
Tingginya
tingkat abrasi di pantai Ulakan Tapakis bukan hanya karena struktur batuan yang sebagian besar terdiri dari
endapan alluvium dan karakteristik pantainya yang datar berpasir juga disebabkan
karena rendahnya kesadaran masyarakat yang tinggal didaerah pesisir pantai dan
terus meng ekploitasi hutan mangrove di daerah
tersebut. Selain itu, juga disebabkan karena keadaan sosial ekonomi
masyarakat Ulakan Tapakis yang tersebar dipesisir pantai mengandalkan sumber
daya alam kelautan dan pesisir sebagai mata pencaharian kehidupan masyarakat.
Cara
menanggulangi dampak abrasi pantai yaitu;
a.
Melakukan Upaya
Rehabilitasi Mangrove dan Peningkatan Infastruktur Penahan Gelombang.
b.
Meningkatkan
Pemahaman dan Peran Serta Masyarakat
c.
Sosialisasi
Peningkatan Peran Serta Masyarakat
d.
Menggali
Kearifan Lokal
4.2
Saran
Pemerintah
dan masyarakat sekitar pesisir pantai harus semakin sadar akan bahaya abrasi pantai
yang jika terus dibiarkan akan menenggelamkan pemukiman penduduk yang dekat dengan
pesisir pantai. Selain itu masyarakat sekitar juga harus kembali melestarikan hutan
mangrove yang secara alami akan menjadi pemecah ombak dan pembuatan batu-batu grid
disepanjang pesisir pantai juga harus segera dilakukan.
Daftar Pustaka
Solihuddin, Tb.2011.Karakteristik Pantai dan Proses Abrasi di Pesisis
Padang Pariaman Sumatera Barat.Jakarta: Globë
Volume 13 No 2 Desember : 112 – 120.
Yudhicara.2008. Kaitan antara
karakteristik pantai Provinsi Sumatera Barat dengan potensi kerawanan tsunami.Bandung: Jurnal
Geologi Indonesia, Vol. 3 No. 2 Juni 2008: 95-106.
Hidayat, Rahmad.2014.
Upaya Pemerintah
Kabupaten Bengkalis dalam Penanggulangan Abrasi.Pekan Baru: Jom
FISIP Volume 1 No. 2 – Oktober 2014
http://hareraanggi.blogspot.co.id/2013/12/contoh-makalah-tentang-abrasi-pantai.html
( diakses pada 26 desember 2017 )
full text : Makalah geologi tentang Abrasi Pantai
Comments
Post a Comment
komentar yang membangun yah !
komentar yang sopan sebagai tanda kita kaum intelektual indonesia
Maju Geografi Indonesia